Bank Rakyat Indonesia, 5 Jurus “Banknya Wong Cilik” Membangun Ketangkasan Perusahaan

Sunarso, Direktur Utama BRI.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah mencatatkan diri sebagai pencetak keuntungan tertinggi di antara bank-bank di Indonesia. Tahun 2022, bank ini mencetak keuntungan (laba bersih) Rp 51,4 triliun, sedangkan sampai dengan kuartal III/2023 sebesar Rp 44,21 triliun ini.

Meskipun demikian, manajemennya tetap terpacu untuk menjadikan BRI sebagai bank yang tetap tumbuh, gesit, tangguh, dan terpercaya. Hal itu tecermin dalam strategi bisnis yang digulirkan BRI.

Sunarso, Direktur Utama BRI, menjelaskan, untuk mempertahankan kinerja yang baik itu dalam kondisi sekarang, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan itu, antara lain, pelemahan ekonomi dunia, termasuk Amerika Serikat dan China, yang bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tantangan lainnya, arus modal asing keluar dari pasar finansial Indonesia karena sentimen pasar yang negatif terhadap perekonomian global dan meningkatnya volatilitas finansial. Di samping itu, lanjut lulusan Institut Pertanian Bogor itu, likuiditas perbankan semakin ketat, walaupun tidak tecermin pada loan to deposit ratio (LDR)-nya.

Untuk merespons tantangan tersebut, Sunarso menjelaskan, ada lima strategi bisnis yang dijalankan BRI. Pertama, menjaga kualitas pertumbuhan. Artinya, aset produktif tetap didorong pertumbuhannya sambil menjaga kualitasnya.

Maka, BRI fokus pada high-yield asset, interest juga pastinya ke sana, dan selanjutnya melakukan percepatan di “new source of growth”. Kemudian, meningkatkan pangsa pasar di Current Account Saving Account (CASA), yakni dana murah yang diperoleh perbankan dari tabungan dan giro.

Strategi kedua, fokus membangun ekosistem, di antaranya dengan memberkuat transaction tools. Menurut Sunarso, BRI sekarang memang harus mempersiapkan fully-digital, tapi tetap mengikuti perkembangan masyarakat, terutama di daerah.

Cash flow masyarakat di daerah, terutama yang menengah-bawah, masih vulnerable (rentan), sehingga perilaku mereka dalam bertransaksi keuangan kebanyakan masih lewat agen (Brilink), ketimbang bank digital. Karena itu, bank digital BRI pun dibangun secara pelan-pelan, step by step, mengikuti journey masyarakat.

Baca Juga  Surya Biru Mengantongi Kontrak Oksigen Cair

Untuk masyarakat Indonesia, lanjut Sunarso, secara umum hari ini kira-kira yang cocok adalah hybrid bank. “Total business process­-nya kami digitalkan tetapi dengan mengombinasikan kehadiran fisik dan kapabilitas digital sesuai customer journey. Dengan demikian, saya yakin kami akan semakin punya kelincahan dan ketangkasan,” ungkapnya.

Strategi ketiga, membangun value group synergy. Sunarso mengatakan, dasar manajemen BRI melakukan sinergi grup ini ialah bank ini terlalu besar sebagai single entity. “Kalau dipompa terus, bisa meledak,” ia menandaskan.

Di samping itu, kalau BRI terlalu besar, menjadi kurang lincah dan kurang tangkas. Maka, BRI tidak akan jalan sebagai “kapal induk”, tetapi sebagai armada. “Ini yang akan kami lakukan di BRI Group, sehingga kami bisa memberikan berbagai layanan produk keuangan dan perbankan secara lengkap kepada nasabah,” tuturnya.

Sementara itu, fungsi anak perusahaan ialah untuk mendiversifikasi income, spreading risk, dan memperkuat customer base. “Dengan begini, jelas kami jadi punya kelincahan dan ketangkasan,” dia menegaskan.

Sebagai contoh, kalau BRI kena “hantam” di kredit karena mungkin bunganya selalu diatur, bisa geser ke yang bunganya tidak diatur. Begitu pun jika yang terpukul bisnis asuransi, BRI bisa geser ke produk atau bisnis lain yang prospektif. Saat ini, BRI Group mempunyai 10 anak perusahaan yang mampu menyumbang 11,4% dari laba bersih, padahal di tahun 2015 hanya 2%.

Strategi bisnis BRI yang keempat ialah menerapkan Prinsip Environment, Social, and Governance (ESG). Sunarso menegaskan lagi, BRI berkomitmen menerapkan sustainable finance dan mengintegrasikan aspek ESG pada kegiatan bisnis dan operasional perusahaan untuk memastikan keberlanjutan perusahaan.

Namun, baginya, yang terpenting ialah governance. “Jadi, memang harus ada yang mengatur dan mengontrol dari atas,” ujarnya.

Untuk mengimplementasikan ESG, BRI membentuk komite dan unit khusus. Tugasnya, membuat perencanaan, memonitor, dan melaporkan implementasi ESG, yang kemudian dilanjutkan dengan evaluasi. “Evaluasi ini dilakukan di level komite,” ujarnya.

Baca Juga  Lima Tips Jualan Online agar Meroket

Contoh implementasi ESG:pembiayaan berkelanjutan di BRI yang menyentuh Rp 694,9 triliun atau setara 67,5% dari total kredit yang disalurkan sepanjang tahun 2022. Penyaluran kredit UMKM yang disalurkan BRI pada kuartal III/2023 tumbuh 11,01% atau naik menjadi Rp 1.038,90 triliun dari Rp 935,86 triliun di kuartal III/2022. Dengan demikian, porsi kredit UMKM mencapai 83,06% dibandingkan dengan total kredit BRI.

Praktik ESG yang telah dilakukan BRI pun memberikan dampak nyata terhadap masyarakat Indonesia. “Sesuai dengan business model-nya, BRI telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia. Berdasarkan riset internal, BRI telah berkontribusi sebesar sekitar 70% dari 85,1% pencapaian indeks inklusi keuangan Indonesia yang di survei pada tahun 2022,” kata Sunarso pada Public Expose Live di Jakarta pada akhir November 2023.

Strategi bisnis kelima, excellence enablers. Yakni, dengan memperkuat kapabilitas karyawan serta keandalan sistem, layanan, dan jaringan ataupun data analytics untuk memberikan layanan perbankan dengan kualitas yang unggul.

Komitmen manajemen BRI dalam mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG) memang tak perlu diragukan. Perusahaan ini terhitung konsisten mengikuti survei dan asesmen Good Corporate Perception Index yang selenggarakan oleh Indonesia Institute for Corporate Governance dan SWA Media Group, termasuk mengikutkan anak-anak perusahananya.

BRI adalah salah satu perusahaan yang selalu meraih predikat “Most Trusted. Untuk survei dan asesmen tahun 2023, BRI meraih skor 95,21, naik sedikit dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya (95,18).

Sementara penilaian dari ACGS (Asian Corporate Governance Score), angkanya 110,2. Selain itu, data privacy dan cyber security pun mengikuti Enterprise Data Management Division, Information Security & Governance Division, Certified DA-SS, dan ISO 27001:2013. Jadi, GCG menjadi rambu-rambu BRI untuk menjadi perusahaan gesit dan tangkas agar tetap tumbuh di tengah perubahan yang sangat cepat. (*)

Arie Liliyah

 www.swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *