Pertamina Hulu Rokan, Inovasi Digital untuk Dukung Kemandirian Energi Nasional

Triatmojo, Vice President Information Technology PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Buat yang belum mengenal, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu perusahaan penting dalam Pertamina Group. Perannya ialah sebagai operator dalam pengelolaan lapangan minyak dan gas terbesar di Indonesia di Wilayah Kerja (WK) Rokan.

Total area operasinya seluas 6.200 km2, meliputi tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau. Di dalam cakupannya ini, ada lebih dari 11 ribu sumur minyak aktif di lebih dari 80 area operasi dan lebih dari 30 fasilitas pemrosesan.

Melalui peran tersebut, PHR menjadi salah satu produsen migas utama di Indonesia yang berkontribusi dalam pemenuhan energi nasional. Blok Rokan berkontribusi lebih dari 160 ribu barel minyak per hari atau 25% dari produksi nasional Indonesia.

Triatmojo, Vice President Information Technology PHR, menjelaskan bahwa skala operasi yang begitu besar memiliki proses yang kompleks dan menghasilkan data yang masif. “Kegiatan yang melibatkan lintas fungsi dan data yang sangat banyak, jika tidak dilelola dengan baik, bisa mengganggu proses bisnis, bahkan berdampak pada ketahanan energi nasional,” katanya.

Data tersebut, lanjut Triatmojo, perlu diekstraksi dan dikonversi menjadi informasi yang bermanfaat untuk analisis pengambilan keputusan atau penentuan strategi.

Menurutnya, karena tantangan operasional yang kompleks, ditambah kondisi lapangan di WK Rokan yang semakin menua (mature) serta tuntutan untuk terus meningkatkan produksi, dibutuhkan inovasi, terutama di bidang digital untuk mendukung pencapaian produksi nasional.

Selaras dengan peta-jalan digitalisasi jangka panjang, WK Rokan memiliki program digital initiative tahunan untuk menjawab kebutuhan bisnis dan tervalidasi dalam memberikan value kepada perusahaan. Dipaparkan Triatmojo, daftar digital initiative ditentukan melalui mekanisme Initiatives Gathering dengan setiap fungsi bisnis dan disetujui Digital Technology Steering Team (DTST) yang terdiri dari unsur pimpinan utama fungsi dan TI. Tiap fungsi memiliki perwakilan digital yang bertanggung jawab dalam mengonsolidasi dan memprioritaskan usulan dari timnya.

Baca Juga  IHSG Rawan di Zona Merah, Amati Peluang Capital Gain PGAS, TOWR, UNIQ

“Semua inisiatif digital dikaji oleh tiap pimpinan fungsi dan difinalisasi oleh DTST dengan mempertimbangkan sumber daya dan anggaran,” kata Triatmojo.

Salah satu inovasi digital yang dihasilkan ialah adopsi teknologi virtual reality (VR) untuk peningkatan performa dan pembelajaran keselamatan kerja. Hal ini dilatarbelakangi adanya lebih dari 30% temuan dalam pengamatan keselamatan kerja di PHR WK Rokan yang berasal dari kegiatan operasi pengangkatan (lifting operation).

Kegiatan lifting operation merupakan salah satu dari 15 kegiatan dengan risiko tinggi di wilayah operasi PHR WK Rokan. Di sisi lain, terdapat 500-600 target pengeboran sumur (drilling) di WK Rokan tahun 2023, yang akan melibatkan ribuan kegiatan lifting operation. Juga ada lebih dari 20 ribu jumlah pekerja baru di WK Rokan yang ada dalam situasi high risk, high tech, dan high cost dalam kurun waktu kurang dari 24 bulan.

Digitalisasi dengan adopsi teknologi VR menghadirkan pengalaman pelatihan dan upskilling baru, yaitu teknologi imersif dengan visualisasi 3D. Menurut Triatmojo, melalui adopsi teknologi VR, pelaksanaan pelatihan dengan skenario yang kompleks dan risiko tinggi bisa dilaksanakan lebih aman, lebih user-friendly, lebih cepat dipahami, dan lebih efisien di lingkungan yang terkontrol.

Hadirnya Modul Pelatihan Keselamatan Kerja dengan teknologi VR mendukung pencapaian 21,5 juta jam kerja selamat (safe man hours) di PHR WK Rokan ‒per 20 September 2023.

“Kegiatan yang melibatkan lintas fungsi dan data yang sangat banyak, jika tidak dikelola dengan baik, bisa mengganggu proses bisnis, bahkan berdampak pada ketahanan energi nasional.”

Triatmojo, Vice President Information Technology PT Pertamina Hulu Rokan

PHR juga membuat terobosan sistem berbasis teknologi yang diberi nama Digital Innovation Center (DICE), sebagai fasilitas informasi terpusat untuk sarana koordinasi dan pembuatan keputusan operasional secara cepat (action-based daily meeting) di level manajer senior/VP. DICE memanfaatkan segala teknologi terkini ‒mencakup information management system, big data, data analytics, artificial intelligence, dsb.‒ untuk memastikan informasi yang dibutuhkan tersedia dan dapat dianalisis dengan mudah.

Platform tersebut didukung dengan sensor pada peralatan dan infrastruktur untuk mendapatkan data kegiatan pengeboran, operasional produksi, dan performa peralatan secara akurat dan real time. PHR pun tidak melupakan aspek kolaborasi. Implementasi yang sudah menjadi best practices di WK Rokan akan diimplementasikan di wilayah kerja lainnya.

Mengenai hasilnya, Triatmojo mengatakan, inovasi digital yang dibangun PHR memberikan dampak yang sangat signifikan. Di antaranya, mampu memperpendek waktu pengeboran hingga produksi awal, dari 22-30 hari menjadi 15 hari untuk area Sumatera Light Oil dan dari 35-40 hari menjadi 15 hari untuk area Heavy Oil. Selain itu, inovasi digital juga meningkatkan jumlah sumur baru, dari 131 pada akhir 2021 menjadi 404 di akhir 2022.

Menurut Triatmojo, teknologi kecerdasan buatan (AI) telah meningkatkan rasio keberhasilan pekerjaan sumur dan mendeteksi anomali produksi dengan lebih cepat. Secara kumulatif, produksi migas mencapai 164,99 barel setara minyak per hari (MBOEPD) pada 2022. Produksi WK Rokan menyumbang sekitar 25% produksi minyak nasional atau sekitar 31% dari produksi hulu Pertamina. (*)

 Jeihan K. Barlian

www.swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *